02/11/2017
Ceritanya lagi di RSUD. Si Everest rewel dan nggak bisa diem. Z kesel. Z marahin lah, "Wapil kenapa sih rewel terus. Emak teh cape tau. Diem atuh," Wapil itu panggilan Z ke Everest.
Nggak lama kemudian, ada seorang wanita paruh baya ngegendong bayi seusia Everest dan duduk di sebelah Z.
Z tanya, "Siapa yang sakit Bu?"
"Ini," dia nunjuk bayi yang dia gendong.
"Oh sakit apa?"
"Baru operasi, nggak punya lubang a**s,"
Deg!
Kok nyesek ya ngedengernya. Si bayi itu dipasang selang di perutnya buat BAB. Dia udah operasi 5 kali tapi si ususnya belum bisa dimasukkin ke a**s. Ngobrol lebih lanjut, ternyata si bayi itu ibunya udah meninggal pas dia masih berusia 3 bulan. Bapaknya juga jarang pulang. Dan ibu yang mengurus bayi itu adalah nenek si bayi dr pihak ayah. Keluarga dari pihak ibu nggak mengakui anak itu karena dianggap cacat.
Sedih beut kan, anak sekecil itu nanggung beban yang berat beut.
Pulangnya, kita naik grab. Mamah Z nanya si driver orang mana dan punya anak berapa. Katanya dia asli orang Aceh. Anaknya 4. Tapi anak pertamanya meninggal di usia 14 tahun karena sakit. Padahal lagi cantik dan gemes-gemes nya.
Z nyesek lagi. Dua pelajaran sekaligus dalam satu hari.
Langsunglah detik itu Z dekap si Everest, dalam hati Z bilang, "Sok, Wapil. Sok aja nangis yang kenceng. Lebih baik ngedenger kamu nangis kenceng, daripada nggak denger tangisan kamu sama sekali selama-lamanya,"