14/11/2019
MENJADI AYAH YANG BAIK?
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher
Menjadi ayah yang baik? Lihatlah sosok Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam. Beliau adalah seorang pelindung dan pembimbing paling baik dalam keluarga. Dengarlah nasihat hadis ini:
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga.” (HR Al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Juga dengarlah kesaksian Anas bin Malik yang sehari-harinya banyak dihabiskan bersama Rasulullah. Kata Anas, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga selain Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam.”
Apakah rasa sayang Rasulullah itu berarti membolehkan apa saja yang anaknya inginkan? Tidak. Rasa sayang Rasulullah itu mengandung ketegasan yang berprinsip. Dengarkan apa yang disabdakan Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wassalam tentang putri kesayangannya:
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya (Allah Subhanahu Wa Ta’ala), seandainya Fatimah binti Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wassalam mencuri, tentu Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wassalam akan memotong tangannya.” (HR Bukhari)
Rasa sayang yang ditunjukkan Rasulullah pada keluarganya juga mengandung teguran yang disertai ilmu (bukan teguran saja tanpa alasan). Rasulullah pernah menegur seorang anak bernama Umar bin Abi Salma,
“Hai Nak! Bacalah basmallah, menyuaplah dengan tangan kananmu serta makanlah apa yang ada di dekatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menjadi ayah yang baik? Lihatlah teladan Nabi Ibrahim alaihi salam yang menunjukkan bahwa kecintaan pada anak tetap harus didasarkan pada kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Menjadi ayah yang baik? Tirulah teladan Nabi Yakub (ayah Nabi Yusuf) alaihi salam yang sangat sabar dalam mengajarkan mana kebaikan dan mana keburukan pada anak-anaknya.
Menjadi ayah yang baik? Lihatlah puisi yang dibuat oleh seorang wanita tak dikenal ini:
“Saat pertama aku menikahi suamiku, aku sudah tahu dari sejak awal:
Bahwa suamiku itu lembut, penuh perhatian, bijaksana dan lapang dada.
“Tetapi kini aku tahu yang dulu aku tidak tahu,
ternyata banyak hal yang ia lakukan dengan tangannya:
Mainan rusak yang ia betulkan, ayunan yang ia dorong,
serta mewujudkan semua hal yang bisa ia wujudkan.
“Sekarang, semakin lama kami bersama,
semakin besar keberuntungan yang kurasa:
ketika aku menikahi seorang suami yang baik,
maka ternyata aku juga menikahi seorang calon ayah yang luar biasa.”
Salam Smart Parents!