04/02/2026
Informasi dalam artikel ini disampaikan untuk kepentingan publik dan edukasi, bukan untuk menginspirasi atau mendorong tindakan serupa. Apabila Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis, depresi, atau pikiran untuk mengakhiri hidup, segera mencari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat
Spontan Viral__Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia dalam sebuah peristiwa tragis di usia yang masih sangat belia. Korban berinisial YBR (10) diduga mengalami tekanan emosional setelah keinginannya untuk dibelikan buku tulis dan pulpen tidak terpenuhi.
Tak hanya itu, Ia juga meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk sang ibu. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah setempat dan berisi ungkapan rasa kecewa serta pesan perpisahan dengan bahasa sederhana khas anak-anak.
Berikut fakta-fakta bocah SD meninggal dunia.
Bocah laki-laki itu ditemukan gant**g diri pada pohon cengkih di kebun milik neneknya pada Kamis (29/1/2026). Tinggi Pohon itu 15 meter dan hanya berjarak sekitar tiga meter dari pondok.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menjelaskan bahwa korban sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok kebun tersebut, namun sempat menginap di rumah orang tuanya pada malam sebelum kejadian.
Saat kejadian itu, neneknya tidak ada di pondok tersebut. Nenek YS berada di rumah tetangga sejak malam untuk bantu memecahkan kemiri.
Neneknya mengetahui YBR gant**g diri setelah diberitahu oleh warga.
Korban pertama kali ditemukan oleh seorang warga yang pergi mengikat ternaknya di kebun nenek YRB. Seusai mengikat ternaknya, warga tersebut ke pondok hendak memberitahu nenek korban untuk memerhatikan ternaknya. Saat itulah warga tersebut menemukan korban gant**g d!ri di pohon cengkih.
Warga kemudian memberitahukan keluarga dan aparat setempat. Petugas kepolisian yang tiba di lokasi langsung melakukan penanganan sesuai prosedur, dan korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Tinggalkan Surat Wasiat Sebut Ibu Pelit dan Salam Perpisahan
Dalam proses penanganan di lokasi, petugas menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditinggalkan korban untuk sang ibu.
Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya.
Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya. Surat tersebut diakhiri gambar anak manangis.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e g*e ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kecewa Tak Dibelikan Buku dan Pulpen
Penyebab YBR gant**g diri terungkap. Pemicunya diduga ia kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, korban YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.
Korban diketahui sehari-hari tinggal bersama neneknya, sementara rumah ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.
"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).
Ibu Tunggal Hidupi 5 Anak-Terhimpit Ekonomi
Dion menyebut kondisi ekonomi keluarga korban memang cukup berat. Ibu YRB merupakan orang tua tunggal yang harus menghidupi lima orang anak. Ayah YRB telah berpisah dari keluarganya sekitar 10 tahun lalu.
"Hidupnya (ibu korban) susah," ujar Dion.