26/01/2026
Di banyak rumah, malam hari sering dianggap sebagai waktu istirahat total bagi peralatan listrik. Lampu sudah dimatikan, televisi tidak ditonton, dan aktivitas rumah tangga berhenti. Namun kenyataannya, listrik belum benar-benar berhenti bekerja.
Dari hasil edukasi visual yang beredar, sejumlah perangkat rumah tangga masih terus mengonsumsi energi meski berada dalam mode siaga atau standby. Televisi dan set top box yang lampu indikatornya masih menyala merah, charger ponsel atau laptop yang tetap tercolok meski tidak digunakan, modem WiFi yang aktif 24 jam, hingga speaker aktif yang dibiarkan dalam kondisi standby—semuanya tetap menarik daya listrik.
Secara terpisah, konsumsi daya perangkat-perangkat ini memang kecil. Namun ketika jumlahnya banyak dan dibiarkan terus-menerus, akumulasi energi yang terpakai menjadi signifikan. Inilah yang sering disebut sebagai listrik “kerja lembur diam-diam”, karena tetap mengalir tanpa disadari pemilik rumah.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tagihan listrik rumah tangga, tetapi juga pada beban sistem kelistrikan secara keseluruhan. Semakin besar konsumsi listrik yang tidak efisien, semakin besar p**a tekanan pada pasokan energi nasional. Di tengah upaya transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, kebiasaan kecil di tingkat rumah tangga ternyata punya peran yang tidak bisa diabaikan.
Menggunakan energi secara lebih bijak bisa dimulai dari langkah sederhana: mencabut charger setelah digunakan, mematikan perangkat dari sumber listrik utama, atau menggunakan stop kontak dengan saklar. Kebiasaan ini membantu mengurangi pemborosan energi sekaligus mendukung sistem kelistrikan yang lebih efisien.
Malam ini, ada baiknya setiap rumah kembali dicek. Berapa banyak perangkat yang masih menyala tanpa benar-benar dipakai? Dari situlah kesadaran energi dimulai—bukan dari hal besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang konsisten.