08/07/2019
DAK KERATON APAKAH ITU?
Tulisan ini bukan ditujukan untuk promosi atau menjual dak keraton, tapi sepertinya belum banyak yang mengerti tentang dak keraton, kelebihan dan kekurangannya.
Dulu sebelum menggunakan dak keraton, banyak data yang harus kami kumpulkan tentang dak keraton, jangan sampai salah menggunakannya, karena biaya konstruksi mahal. Apalagi biaya bongkar karena salah konstruksi, pasti akan memakan waktu dan biaya dobel.
Salah satu web yang menjelaskan sejarah dak keraton adalah
https://www.sementigaroda.com/read/20150605/56/material-bahan-bangunan-dak-beton-keraton-sebagai-solusi-yang-praktis-dan-ekonomis
Umumnya dak lantai menggunakan dak beton konvensional dengan cara mengecor di lokasi proyek. Ternyata cara ini bagi sebagian orang kurang praktis, risiko kegagalan dan biaya membengkak cukup tinggi. Sebagai alternatif yang cukup menjanjikan, dipakailah dak Keramik Komposit Beton, atau disingkat dak beton Keraton.
Dak Beton Kraton sebenarnya adalah blok-blok keramik yang dirangkai menjadi plat lantai kemudian dicomposit dengan beton. Teknologi ini pertama kali ditemukan di Jerman dan Belanda sekitar seratus tahun yang lalu. Dak Keraton dibawa ke Indonesia melalui Proyek Bantuan Teknis Pembangunan Industri Bahan Bangunan yang diawasi oleh PBB.
Material bahan bangunan dak beton Keraton sendiri tersusun dari tanah liat pilihan yang kemudian di-extrude dan dibakar pada suhu 1000 derajat celcius sehingga menghasilkan keramik dengan kuat tekan setara Beton K300. Karena bahan penyusunnya, dak Keraton lebih ringan sekitar 40% ketimbang beton konvensional.
Keuntungan memakai teknologi material ini dibanding beton konvensional adalah dak beton Keraton lebih ringan. Dak beton Keraton siap pakai mempunyai rongga sehingga bobotnya lebih ringan, sekitar 130-150 kg/m2, sedangkan dak beton dengan ketebalan 12 cm mempunyai berat 288 kg/m2.
Dak beton Keraton menganut sistem penulangan satu arah, sehingga kebutuhan besi hanya 60% dibanding dengan beton konvensional. Tentu ini membuat dak Keraton lebih murah dari pada beton biasa. Teknologi ini juga tidak membutuhkan bekisting sehingga kebutuhan kayu sangat sedikit. Material beton yang digunakan sebagai perekat dan penutup pun hanya sedikit, hanya 2 cm, sehingga sangat efisien. Dengan 5-6 tenaga kerja, sudah cukup untuk membuat dak Keraton, bandingkan dengan beton biasa yang butuh 10 orang atau lebih.
Dalam hal aplikasi, dak Keraton lebih cepat dibanding beton konvensional. Dak Keraton tersusun dari keramik-keramik yang sudah jadi sedangkan beton hanya sebagai penutup, sehingga tidak butuh waktu pengeringan yang lama. Dak Keraton hanya butuh waktu 7 hari hingga penyangga bisa dilepas, sedangkan beton konvensional bias butuh waktu sampai 21 hari.
Kelebihan lain dari Dak beton Keraton ini adalah berfungsi juga sebagai isolator panas. Karena memiliki rongga, maka panas dan suara tidak langsung dihantarkan. Jadi selain berfungsi sebagai struktur, Dak beton Keraton ini bisa untuk meredam panas dan kebisingan.
Untuk perbandingan mutu antara dak keraton, dak konvensional dan dak bata ringan bisa dilihat di http://www.griyatumbuh.com/2018/03/dak-keraton-sebagai-pengganti-dak-beton.html
Aplikasi pemakaian material pada penelitian ini merupakan hasil pengembangan dari Ir.Emon Sulaiman (Alm) dan Nasan Subagia. Kemudian dikembangkan lagi dengan modifikasi modern oleh Ir.Judadi dan Dipl.Ing.Yudiro pada tahun 1984. Setelah itu pada tahun 1990 dikembangkan lagi modifikasinya oleh Ir.Bambang Mursod.
CV.SENGKALING JAYA
VILLA BUKIT SENGKALING AF/11 MALANG
085106621132