05/04/2017
Curah hujan yang tinggi sejak hari Selasa dan Rabu hari ini, membuat beberapa kawasan di Samarinda dan sekitarnya dilanda banjir..Banjir membawa dampak tidak baik bagi kesehatan tubuh. Pasalnya, kondisi lingkungan yang tidak bersih akan membuat makanan dan minuman yang dikonsumsi pun terpengaruh kebersihannya.
Biasanya memang ketika terjadi hujan dan banjir akan disertai banyak munculnya penyakit-penyakit tertentu yang dapat menyebabkan meningkatnya kejadian kematian karena terlambatnya penyakit tersebut diobati.
Saat dan setelah banjir melanda, daya tahan tubuh yang menurun dan lingkungan yang kotor membuat penyakit menular mudah sekali menyebar. Banjir membawa berbagai sampah hingga bangkai binatang yang berisiko menyebarkan penyakit kepada manusia.
Ada beberapa penyakit menular yang harus diwaspadai masyarakat sehubungan dengan banjir dan langkah antisipasinya sebagai berikut:
Leptospirosis
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini ditularkan melalui hewan/binatang. Binatang yang menjadi penyebab penyakit ini biasanya muncul akibat kotoran atau air kencing tikus.
Di saat musim banjir tikus-tikus yang tinggal di lorong-lorong atau lubang kecil di rumah pun ikut keluar untuk menyelamatkan diri. Tikus tersebut berkeliaran di sekitar manusia sehingga kotoran dan air kencing tikus yang mengandung bakteri Leptospira akan bercampur dengan air banjir.
Bila seseorang yang memiliki luka dan terkena air tersebut akan terkena penyakit ini dan menjadi infeksi dan akan jatuh sakit. Untuk menghindari terkena penyakit Leptospira, harus menjaga lingkungan agar tidak ada tikus yang berkeliaran dengan menjaga kebersihan.
Hindari air banjir atau bermain air saat banjir melanda, terutama bagi yang memiliki luka. Bila terpaksa harus ke daerah banjir sebaiknya menggunakan pelindung seperti sepatu bot.
Demam berdarah
Pada saat musim hujan, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah.
Hal ini karena pada saat musim hujan banyak sampah misalnya kaleng bekas, ban bekas serta tempat-tempat tertentu terisi air dan terjadi genangan untuk beberapa waktu.
Genangan air itulah akhirnya menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut. Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai penular penyakit, maka risiko terjadinya penularan juga semakin meningkat.
Hepatitis A
Penyakit yang disebabkan banjir yang paling berbahaya adalah Hepatitis A. Banjir cenderung membawa sampah dari semua tempat yang kotor berbaur menjadi satu misalnya virus yang ada pada septic tank, bakteri dari air kali dan kuman-kuman yang terdapat pada tanah akan bercampur menjadi satu.
Hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai hal seperti bakteri, virus, proses autoimun, obat-obatan, perlemakan, alkohol dan zat berbahaya lainnya.
Hepatitis A disebabkan virus hepatitis A (VHA). Penularannya melalui makanan atau minuman tercemar virus hepatitis A yang berasal dari tinja penderita. Umumnya penularan penyakit ini berasal dari air minum yang tercemar dan sanitasi yang buruk. Untuk itu penting agar kita selalu memerhatikan kebersihan setelah banjir.
Demam Tifoid
Penyakit demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Saat musim hujan akan banyak genangan-genangan air, bahkan banjir. Genangan air atau banjir yang terkontaminasi bakteri tersebut dapat menyebabkan anak-anak terinfeksi Salmonella.
Bakteri Salmonella dapat bertahan di dalam air selama berminggu-minggu, sehingga tinggal di dekat sungai atau selokan yang terkontaminasi juga dapat meningkatkan risiko penularan. Terlebih jika air sungai tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, dan sebagai sumber air minum.
Sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan yang kurang juga meningkatkan risiko merebaknya demam tifoid.
Kebersihan lingkungan dan kebersihan diri menjadi kunci pencegahan penyakit demam tifoid.
Diare
Penyakit diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu (personal hygiene). Pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, potensi banjir meningkat.
Pada saat banjir, sumber-sumber air minum masyarakat, khususnya sumber air minum dari sumur dangkal, akan ikut tercemar. Di samping itu, pada saat banjir biasanya akan terjadi pengungsian dengan fasilitas dan sarana serba terbatas, termasuk ketersediaan air bersih. Itu semua menjadi potensial menimbulkan penyakit diare disertai penularan yang cepat.
Pencegahan diare bisa dilakukan dengan mengingatkan masyarakat untuk membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat.
Selain itu, masyarakat juga wajib membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. Dan, masyarakat juga menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal.
*sumber foto : group FB Busam.