29/09/2025
# bab 2
"Apa katamu?! 48 tahun?!" suara Denisa Farnese tertahan tidak percaya mendengar ucapan anak perempuannya Cornella Farnese saat memberitahu usia Reynold Macini calon dari Stella cucunya.
"Apa kau sudah gila, menjodohkan keponakanmu sendiri dengan pria yang seumuran dengan ayahnya? apa kata mendiang putraku nanti saat tahu putrinya dinikahkan dengan seorang pria tua. Denisa memijit-mijit ujung dahinya yang pusing karena keputusan putrinya yang mendadak.
" Mommy, sudahlah, sejak kepergian kedua orang tuanya, kami yang telah merawat Stella dari kecil, sudah seharusnya dia membalas budi" sanggah Cornella seraya menghisap rokok di tangannya.
"Merawat katamu? kau memperlakukannya lebih seperti pembantu daripada seorang keponakan! hardik Denisa. Suaranya tertahan mengingat saat usia Stella menginjak delapan tahun harus kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil. Sejak saat itu Cornella menampung Stella dan menjadi walinya karena ia yang meminta. Berharap uang asuransi kakaknya jatuh kepadanya kebetulan saat itu usaha nya sedang terpuruk. Namun bukan perlakuan selayak nya anak yang ia terima justru anak sekecil itu harus melayani keluarga Cornella, mulai dari memasak, membersihkan rumah dan menyiapkan perlengkapan mereka sekeluarga.
"Aku ingat saat itu kau berjanji akan memperlakukannya dengan baik" mata Denisa mulai berkaca-kaca.
"Mommy, apa yang kau bicarakan? bukankah aku sudah menyekolahkan sampai kejenjang pendidikan tinggi. Kau pikir biayanya tidak besar? warisan kak Pedro tidak cukup!" nada suaranya mulai meninggi.
Ia selalu berdebat dengan mommynya saat membahas Stella, itulah salah satu yang membuatnya benci kepada gadis itu.
"Warisan Pedro sangat banyak, sangat cukup untuk membiayai kehidupan Stella! tapi kau malah menggunakannya untuk keperluan sosialitamu!" Denisa menahan nafasnya seraya duduk takut jantungnya akan kumat jika emosinya tidak terkontrol
"Sudahlah Mommy, terima saja! lagian keluarga Macini itu bukan keluarga sembarangan, aku yakin dia akan betah menjadi istri pria itu"
Cornella tersenyum smirk saat memikirkan Stella akan melayani suaminya yang sudah kakek-kakek.
"Kenapa kau tersenyum?" Denisa mengernyitkan dahi curiga. Ia menatap putrinya tajam.
"Eng.. tidak ada" ia mematikan rokoknya ke dalam pot bunga di depannya . tanah itu seketika mematikan api menyemburkan asap yang mengepul perlahan hilang tertiup angin.
Sejujurnya ia tidak pernah bertemu Reynold sama sekali. Yang ia tahu dari orang suruhan Rafles kalau pria itu sudah berumur dan dingin terhadap perempuan.
Rafles menjanjikan sebuah uang yang besar jika ada yang mau menikahi anaknya. Tentu saja itu kesempatan yang bagus untuk Cornella.
Ia bisa mengambil uang itu untuk modal suaminya yang kembali bangkrut.
Mommy nya sempat heran kenapa suami Cornella selalu kehabisan uang, usut punya usut suaminya s**a berjudi dan main perempuan. Namun karena ia dari keluarga terpandang, Cornella tidak mau berpisah karena tidak ingin direndahkan oleh circle nya. walaupun sempat beberapa kali ketahuan jalan dengan perempuan lain. Namun ia selalu mengabaikan padahal hatinya begitu tersakiti.
*
"Silvester!.... silvester!.. ck.. dimana pria tua itu" decak Reynold berteriak dari kamarnya.
Suara bariton nya menggema membuat pembantunya yang sedang membersihkan ruangan dibalik di kamar sebelah bergidik ngeri.
pintu berdecit terbuka, "dimana dia meletakkan baju gantiku?". Reynold keluar dengan wajah kesal hanya berselimut handuk dipinggangnya. dada bidangnya terbuka. Meski usianya sudah 48 tahun, tapi tubuhnya masih atletis dan kotak-kotak, 20 tahun lebih muda karena ia sangat disiplin menjaga pola makan dan olahraga nya.
langkahnya tegas menuju dapur ingin meneguk segelas air karena sehabis berolahraga menguras cairan dalam tubuhnya.
tubuhnya berkeringat membuatnya semakin sexy ðŸ¤
perlahan ia berjalan menuju dapur, ingin mengambil segelas minuman dikulkas. Namun langkahnya terhenti menatap seorang gadis yang baru saja berbalik ke arahnya di depan pintu kulkas.
matanya melotot "siapa kau?" tanya nya sinis membuat gadis itu ketakutan.
"Eng..anuu..tuan.. saya.." tak sempat Stella melanjutkan perkataannya tiba-tiba dari kejauhan Silvester datang tergopoh-gopoh menghampiri tuannya.
"tuan! maaf saya barusan dari halaman samping, perkenalkan ini nona Stella Farnese" ujar Silvester seraya memperkenalkan gadis itu.
"kenapa dia masuk kerumahku?" Reynold mengernyitkan dahinya menatap Stella tajam seperti singa yang akan menerkam gadis itu.
sadar dengan sikap Reynold yang kasar pada Stella, Silvester buru-buru menarik pria itu menjauh seraya berbisik
"Tuan, dia wanita yang akan anda nikahi minggu depan, atas perintah tuan besar" bisiknya ke telinga Reynold.
"Apa katamu? Apa Daddyku sudah gila? gadis kecil itu!?" mata Reynold membulat sempurna membuat Silvester mundur gemetaran suaranya tertahan. ia menoleh sekilas pada gadis itu yang mencoba tersenyum tipis kearahnya.
Reynold menempelkan tangan di kepalanya "Apa Daddy pikir aku penyuka anak kecil?"
Silvester memundurkan kepalanya kebelakang "Tuan, nona Stella sudah 23 tahun" ucapnya menyanggah perkataan tuannya.
Reynold menatap Silvester tajam "Kau pikir berapa umurku? Argghh...!" tangan nya mengepal keatas berpura-pura akan melayangkan tinju ke wajah Silvester.
"Sudahlah tuan, menikah saja karena kalau tidak, kata Marco kau akan dicoret dari keluarga Macini jika tidak mengikuti perintah tuan besar" ujar Silvester mencebikkan bibirnya.
Reynold menaikkan kedua pipinya tanda takut dicoret dari keluarga Macini. Ia menatap Silvester seperti meminta bantuan.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rumah tangganya jika beristrikan gadis itu. sekali lagi ia menoleh pada Stella yang berdiri kaku menatapnya sungkan.
Reynold menghela nafas berat melangkah gontai kembali menuju kamarnya "Silvester, ambilkan minuman untukku! bawa kekamar!" ujarnya berlalu.
"Siap tuan" Silvester bergegas menuju kearah kulkas dimana Stellah masih terdiam membisu memperhatikan mereka berdua.
"Apa tuan Reynold membenciku?" tanyanya pelan
Silvester mengembangkan senyumannya, takut membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
"Tidak Nona, tuan Reynold pria yang berhati baik. Hanya saja dia tidak tahu cara berbicara dengan benar" ujarnya mantap.
Stella meremas dress nya, ia gemetaran karena harus berhadapan dengan orang-orang asing dirumah ini, terutama Reynold yang tidak s**a akan kehadirannya.
Silvester menyadari kekalutan Stella, "Tenang lah Nona, suatu saat tuan Reynold pasti akan membuka hatinya, dia hanya butuh waktu"
Stella tersenyum mendengar penuturan Silvester yang menghangatkan hatinya. "Boleh aku saja yang antar?" tanya Stella menawarkan diri seraya mengambil cangkir yang dipegang Silvester.
Sempat ragu namun Silvester menyerahkan cangkir yang berisi air kepada Stella.
Ia melangkah mantap menuju kamar Reynold, bagaimanapun benci reynold padanya, pria itu masih manusia. tidak mungkin akan memakannya gumam Stella dalam hati.
Ia mengetuk pintu kamar Reynold. Terdengar seruan dari dalam. "Masuk saja! pintunya tidak ku kunci!"
Stela membuka pintu kamar Reynold perlahan. Matanya tiba-tiba menyipit mulutnya terbuka lebar, tapi cepat-cepat ia tutup melihat pemandangan didepan matanya.
Reynold membuka handuk yang melilit pinggangnya, untung saja ia membelakangi Stella. Ia mengembangkan handuknya merapikan ikatan handuknya kembali. untung saja bagian bokongnya tertutup dan sudah pasti bagian depan terbuka lebar.
"Kau taruh saja di meja disana, aku mau mandi dulu!" ucapnya tanpa menoleh
"Ba-baik tuan" ucap Stella tergagap melangkah maju meletakkan cangkir itu diatas meja dekat dari pintu.
seketika nafas Reynold tertahan mendengar suara wanita. ia memicingkan matanya kesal.
"Dasar Silvester sialan! beraninya dia menyuruh gadis itu kekamarku!" pekiknya dalam hati
Monetizze
Ayo bergabung dan subscribe buku Menikahi Bujang Lapuk Tampan agar selalu mendapatkan informasi update chapter terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Messan Reinafa di aplikasi KBM.