USEshop

USEshop Aku membuat sebuah karya menarik di NovelToon, mohon dukungannya ya! https://noveltoon.mobi/id/share/5458086

check new novel
03/10/2025

check new novel

"Reynold, pokoknya minggu depan kamu harus menikahi gadis itu! tidak ada kata tidak!" Geraham Tuan Rafles mengetat tida...

 # bab 2"Apa katamu?! 48 tahun?!" suara Denisa Farnese tertahan tidak percaya mendengar ucapan anak perempuannya Cornell...
29/09/2025

# bab 2
"Apa katamu?! 48 tahun?!" suara Denisa Farnese tertahan tidak percaya mendengar ucapan anak perempuannya Cornella Farnese saat memberitahu usia Reynold Macini calon dari Stella cucunya.

"Apa kau sudah gila, menjodohkan keponakanmu sendiri dengan pria yang seumuran dengan ayahnya? apa kata mendiang putraku nanti saat tahu putrinya dinikahkan dengan seorang pria tua. Denisa memijit-mijit ujung dahinya yang pusing karena keputusan putrinya yang mendadak.

" Mommy, sudahlah, sejak kepergian kedua orang tuanya, kami yang telah merawat Stella dari kecil, sudah seharusnya dia membalas budi" sanggah Cornella seraya menghisap rokok di tangannya.

"Merawat katamu? kau memperlakukannya lebih seperti pembantu daripada seorang keponakan! hardik Denisa. Suaranya tertahan mengingat saat usia Stella menginjak delapan tahun harus kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil. Sejak saat itu Cornella menampung Stella dan menjadi walinya karena ia yang meminta. Berharap uang asuransi kakaknya jatuh kepadanya kebetulan saat itu usaha nya sedang terpuruk. Namun bukan perlakuan selayak nya anak yang ia terima justru anak sekecil itu harus melayani keluarga Cornella, mulai dari memasak, membersihkan rumah dan menyiapkan perlengkapan mereka sekeluarga.

"Aku ingat saat itu kau berjanji akan memperlakukannya dengan baik" mata Denisa mulai berkaca-kaca.

"Mommy, apa yang kau bicarakan? bukankah aku sudah menyekolahkan sampai kejenjang pendidikan tinggi. Kau pikir biayanya tidak besar? warisan kak Pedro tidak cukup!" nada suaranya mulai meninggi.

Ia selalu berdebat dengan mommynya saat membahas Stella, itulah salah satu yang membuatnya benci kepada gadis itu.

"Warisan Pedro sangat banyak, sangat cukup untuk membiayai kehidupan Stella! tapi kau malah menggunakannya untuk keperluan sosialitamu!" Denisa menahan nafasnya seraya duduk takut jantungnya akan kumat jika emosinya tidak terkontrol

"Sudahlah Mommy, terima saja! lagian keluarga Macini itu bukan keluarga sembarangan, aku yakin dia akan betah menjadi istri pria itu"

Cornella tersenyum smirk saat memikirkan Stella akan melayani suaminya yang sudah kakek-kakek.

"Kenapa kau tersenyum?" Denisa mengernyitkan dahi curiga. Ia menatap putrinya tajam.

"Eng.. tidak ada" ia mematikan rokoknya ke dalam pot bunga di depannya . tanah itu seketika mematikan api menyemburkan asap yang mengepul perlahan hilang tertiup angin.

Sejujurnya ia tidak pernah bertemu Reynold sama sekali. Yang ia tahu dari orang suruhan Rafles kalau pria itu sudah berumur dan dingin terhadap perempuan.

Rafles menjanjikan sebuah uang yang besar jika ada yang mau menikahi anaknya. Tentu saja itu kesempatan yang bagus untuk Cornella.

Ia bisa mengambil uang itu untuk modal suaminya yang kembali bangkrut.

Mommy nya sempat heran kenapa suami Cornella selalu kehabisan uang, usut punya usut suaminya s**a berjudi dan main perempuan. Namun karena ia dari keluarga terpandang, Cornella tidak mau berpisah karena tidak ingin direndahkan oleh circle nya. walaupun sempat beberapa kali ketahuan jalan dengan perempuan lain. Namun ia selalu mengabaikan padahal hatinya begitu tersakiti.

*

"Silvester!.... silvester!.. ck.. dimana pria tua itu" decak Reynold berteriak dari kamarnya.

Suara bariton nya menggema membuat pembantunya yang sedang membersihkan ruangan dibalik di kamar sebelah bergidik ngeri.

pintu berdecit terbuka, "dimana dia meletakkan baju gantiku?". Reynold keluar dengan wajah kesal hanya berselimut handuk dipinggangnya. dada bidangnya terbuka. Meski usianya sudah 48 tahun, tapi tubuhnya masih atletis dan kotak-kotak, 20 tahun lebih muda karena ia sangat disiplin menjaga pola makan dan olahraga nya.

langkahnya tegas menuju dapur ingin meneguk segelas air karena sehabis berolahraga menguras cairan dalam tubuhnya.

tubuhnya berkeringat membuatnya semakin sexy 🤭

perlahan ia berjalan menuju dapur, ingin mengambil segelas minuman dikulkas. Namun langkahnya terhenti menatap seorang gadis yang baru saja berbalik ke arahnya di depan pintu kulkas.

matanya melotot "siapa kau?" tanya nya sinis membuat gadis itu ketakutan.

"Eng..anuu..tuan.. saya.." tak sempat Stella melanjutkan perkataannya tiba-tiba dari kejauhan Silvester datang tergopoh-gopoh menghampiri tuannya.

"tuan! maaf saya barusan dari halaman samping, perkenalkan ini nona Stella Farnese" ujar Silvester seraya memperkenalkan gadis itu.

"kenapa dia masuk kerumahku?" Reynold mengernyitkan dahinya menatap Stella tajam seperti singa yang akan menerkam gadis itu.

sadar dengan sikap Reynold yang kasar pada Stella, Silvester buru-buru menarik pria itu menjauh seraya berbisik

"Tuan, dia wanita yang akan anda nikahi minggu depan, atas perintah tuan besar" bisiknya ke telinga Reynold.

"Apa katamu? Apa Daddyku sudah gila? gadis kecil itu!?" mata Reynold membulat sempurna membuat Silvester mundur gemetaran suaranya tertahan. ia menoleh sekilas pada gadis itu yang mencoba tersenyum tipis kearahnya.

Reynold menempelkan tangan di kepalanya "Apa Daddy pikir aku penyuka anak kecil?"

Silvester memundurkan kepalanya kebelakang "Tuan, nona Stella sudah 23 tahun" ucapnya menyanggah perkataan tuannya.

Reynold menatap Silvester tajam "Kau pikir berapa umurku? Argghh...!" tangan nya mengepal keatas berpura-pura akan melayangkan tinju ke wajah Silvester.

"Sudahlah tuan, menikah saja karena kalau tidak, kata Marco kau akan dicoret dari keluarga Macini jika tidak mengikuti perintah tuan besar" ujar Silvester mencebikkan bibirnya.

Reynold menaikkan kedua pipinya tanda takut dicoret dari keluarga Macini. Ia menatap Silvester seperti meminta bantuan.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rumah tangganya jika beristrikan gadis itu. sekali lagi ia menoleh pada Stella yang berdiri kaku menatapnya sungkan.

Reynold menghela nafas berat melangkah gontai kembali menuju kamarnya "Silvester, ambilkan minuman untukku! bawa kekamar!" ujarnya berlalu.

"Siap tuan" Silvester bergegas menuju kearah kulkas dimana Stellah masih terdiam membisu memperhatikan mereka berdua.

"Apa tuan Reynold membenciku?" tanyanya pelan

Silvester mengembangkan senyumannya, takut membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

"Tidak Nona, tuan Reynold pria yang berhati baik. Hanya saja dia tidak tahu cara berbicara dengan benar" ujarnya mantap.

Stella meremas dress nya, ia gemetaran karena harus berhadapan dengan orang-orang asing dirumah ini, terutama Reynold yang tidak s**a akan kehadirannya.

Silvester menyadari kekalutan Stella, "Tenang lah Nona, suatu saat tuan Reynold pasti akan membuka hatinya, dia hanya butuh waktu"

Stella tersenyum mendengar penuturan Silvester yang menghangatkan hatinya. "Boleh aku saja yang antar?" tanya Stella menawarkan diri seraya mengambil cangkir yang dipegang Silvester.

Sempat ragu namun Silvester menyerahkan cangkir yang berisi air kepada Stella.

Ia melangkah mantap menuju kamar Reynold, bagaimanapun benci reynold padanya, pria itu masih manusia. tidak mungkin akan memakannya gumam Stella dalam hati.

Ia mengetuk pintu kamar Reynold. Terdengar seruan dari dalam. "Masuk saja! pintunya tidak ku kunci!"

Stela membuka pintu kamar Reynold perlahan. Matanya tiba-tiba menyipit mulutnya terbuka lebar, tapi cepat-cepat ia tutup melihat pemandangan didepan matanya.

Reynold membuka handuk yang melilit pinggangnya, untung saja ia membelakangi Stella. Ia mengembangkan handuknya merapikan ikatan handuknya kembali. untung saja bagian bokongnya tertutup dan sudah pasti bagian depan terbuka lebar.

"Kau taruh saja di meja disana, aku mau mandi dulu!" ucapnya tanpa menoleh

"Ba-baik tuan" ucap Stella tergagap melangkah maju meletakkan cangkir itu diatas meja dekat dari pintu.

seketika nafas Reynold tertahan mendengar suara wanita. ia memicingkan matanya kesal.

"Dasar Silvester sialan! beraninya dia menyuruh gadis itu kekamarku!" pekiknya dalam hati

Monetizze

Ayo bergabung dan subscribe buku Menikahi Bujang Lapuk Tampan agar selalu mendapatkan informasi update chapter terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Messan Reinafa di aplikasi KBM.

Stella Farnese   Novel by Messan Reinafaon going di KBM/NT
28/09/2025

Stella Farnese Novel by Messan Reinafa
on going di KBM/NT

28/09/2025
Malam tidak berjalan singkat. Tengah malam Lorian terbangun karena matanya tidak bisa tidur. Lantai kamar dingin meski d...
26/09/2025

Malam tidak berjalan singkat. Tengah malam Lorian terbangun karena matanya tidak bisa tidur. Lantai kamar dingin meski di alas dengan karpet permadani tebal. Baju tidurnya terlalu terbuka untuk menutupi dingin nya AC dikamar itu. ia melirik ke atas ranjang, James nampak tertidur dengan tenang.

Ia menatap wajah pria itu dari samping, entah kenapa dia lebih tampan dan manusiawi saat menutup mata, wajahnya tenang dan nafasnya teratur.

Lorian menggelengkan wajahnya cepat, ia menundukkan kepala tatapannya berhenti pada kalung di lehernya yang berat. senyum simpul terpancar di bibirnya.

Ehemm....

James yang tertidur memalingkan badannya ke kanan di sisi ranjang. Ia membuka matanya, pandangannya beradu dengan sorot mata Lorian yang menatap nya sedari tadi.

Jaraknya sangat dekat hingga Lorian merasakan deru nafasnya yang berat.

Lorian terperanjat bingung merebahkan tubuhnya secepat kilat kelantai.

James yang menyadari itu bangkit dari tidurnya, duduk menatap Lorian yang menempel ke lantai, kedua tangannya ke atas sedangkan kepalanya menelungkup kebawah seperti posisi menyerah.

"apa yang kau lakukan disana!" James menarik tangan Lorian ke atas.

Nafas Lorian tercekat, James menyadari apa yang dilakukannya

"Eng.. aku terjatuh!" jawabnya gugup.

James menahan senyumnya, antara kesal dan gemas melihat tingkah Lorian. ia menarik tangan Lorian kuat ke sisi ranjang seperti mengangkat sebuah boneka.

Wajahnya memerah dan ketakutan. ini akhir hidupku! ratapnya dalam hati.

"Apa kau berencana membunuhku saat tidur?" ucapnya mengintimidasi.

Lorian tergagap menggerakkan kedua tangannya.

"tidak mas, kak eh tuan! suaranya bergetar terbata.

"Aku hanya tidak bisa tidur". sorot matanya melemah.
tangannya meremas renda dress nya membuatnya sedikit tersingkap.

James menatap gadis itu dengan tatapan datar dan dingin memperhatikan wajahnya yang mulai lesu karena kurang tidur. Pandangannya terus kebawah memperhatikan lekuk tubuh Lorian yang memakai pakaian tidur yang disiapkan Siena pembantunya.

dress tidur merah maron menerawang memperlihatkan dengan jelas lekukan pinggang dan dadanya meski bagian penting itu tertutup payet manik-manik.

Ia merasakan ada sesuatu dalam tubuh nya yang menegang. Cepat-cepat ia mengalihkan wajahnya. Menaikkan selimut hingga ke pinggangnya. Pipinya memerah tapi ia sekuat tenaga mencoba menutupinya.

Duh... ada yang bangun? 🤭

Kenapa harus baju tidur seperti ini yang dipilihkan Siena? apa tidak ada yang lain. pikirnya

Apalagi melihat tingkah Lorian yang masih memberontak tidak mungkin juga ia "melakukannya" hari ini.

Lorian yang dipandangi sedari tadi, merasa canggung dan malu. ia menukar posisi duduknya dan mencondongkan badannya kedepan hingga menutupi lekukan tubuhnya.

James menelan ludah melihat tingkah polos Lorian.

ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk dari seseorang. Ia menjangkau ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Wajahnya berubah serius.

Ia terdiam sesaat.

"Kau tidurlah, aku akan pergi malam ini" ucapnya dingin tanpa melihat.

Lorian yang sedari tadi ketakutan merasa senang bukan kepalang

Akhirnya ia bisa tidur di kasur yang empuk bukan dilantai yang keras! tapi ia menahan senyumnya dan menggigit bibir dalam nya.

James menuju lemari, kembali mengenakan kemeja putih dan celana hitamnya. Ia melirik Lorian gemas yang tertunduk menggosok-gosok pergelangan tangannya.

Pintu kamar ditutup. Lorian bersorai kegirangan dengan nada yang tertahan. ia melompat ke kasur dengan Senyumnya yang lebar. buru-buru disarungkan nya selimut ke seluruh tubuhnya.

"Akhirnya, aku bisa tidur dengan tenang" ujarnya kegirangan dengan suara tertahan.
...............

Ke esokkan paginya, sinar matahari begitu menyilaukan masuk melalui sela-sela roller blind.
Lorian menyipitkan matanya menggeliat pelan. Namun kaki dan tangannya terhalang sesuatu yang kokoh, keras dan hangat.

Ia menghentakkan kakinya kebawah, meraba sesuatu yang mirip kaki? tapi itu bukan kakinya!. Ia membuka matanya perlahan seketika mulutnya terbuka lebar tak percaya.

James tertidur pulas disampingnya. matanya tertutup meneduhkan. Tidak seperti saat ia bangun, matanya lebih seperti sebuah pisau yang siap menusuk siapa saja yang melawan perintahnya.

Lorian spontan turun dari ranjang hingga tubuh nya terpental kebawah, jantungnya berdegup kencang melihat tonjolan bagian pribadi James yang hanya mengenakan boxer brief .

James membuka matanya samar-samar, ia mengernyitkan dahi bagai dejavu melihat Lorian jatuh telungkup di lantai. Gadis itu meringis kesakitan.

Malam itu bar tempat Lorian bekerja cukup ramai. Padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Seharusnya pergantian shift sudah berjalan, namun malam itu Alfred yang menggantikan shift Lorian sedikit terlambat mengharuskan dia untuk membuang sampah di belakang bar. Namun pemandangan mengerikan....

Lorian sekali lagi melihat jam yang melingkar ditangannya, belum ada tanda kedatangan Alfred yang sudah ia tunggu dari t...
20/09/2025

Lorian sekali lagi melihat jam yang melingkar ditangannya, belum ada tanda kedatangan Alfred yang sudah ia tunggu dari tadi untuk menggantikan sift malam ini.

Pakaian dress hitam selutut dengan celemek putih yang ia pakai dari siang tadi mulai terlihat lusuh. Tapi ia merasa senang setidaknya itu membuat dia tidak terlihat menonjol.

Angin malam berhembus membawa aroma alkohol yang diiringi musik menandakan malam semakin ramai. Para pria tua mabuk menegak gelas alkohol dengan pasangan bayaran yang duduk disampingnya.

Nania mengelap meja yang ada didepannya seraya membunuh waktu berharap jam pulang bergulir dengan cepat.

"Lorian, bisa bantu aku buang sampah ke belakang?" ucap Marinho manager bar memecah kegelisahannya.

Lorian mengangguk kemudian mengambil kantong besar yang terhampar di meja belakang. membawanya kepintu belakang bar tempat truk sampah akan mengangkut nya setiap pagi.

Di sepanjang jalan belakang bar, hanya ditemani cahaya lampu yang redup dan juga aroma karat dan jalanan yang lembab. Tidak jauh dari tempatnya berdiri dia mendengar suara-suara berat yang yang membuatnya penasaran.

Ngapain disini? jam segini? pikirnya.

Awalnya ia mengira hanya orang-orang mabuk yang meracau. Namun matanya terbelalak saat melihat sekumpulan orang berpakaian hitam sedang mengerumuni seorang pria yang tangan nya terikat kebelakang. Ada empat pria berbadan besar dengan tatapan yang ganas dan satu orang yang lebih muda tapi tatapannya yang datar malah membuatnya lebih sadis dari yang lain.

Pria itu bersimpuh memohon-mohon supaya ia diampuni. hidungnya terlihat berdarah menyiratkan pukulan tumpul yang menghujamnya beberapa kali.

Lorian memperhatikan dengan seksama salah seorang pria yang berpakaian jas hitam itu ialah James Moriati yang ia dengar dari desas desus pengunjung bar adalah seorang bos mafia kejam yang tidak berperasaan. Ia menelan ludah berharap ia dapat mundur diam-diam menghindar dari kejadian yang dilihatnya.

Tatapan pria muda itu dingin tak berperasaan. "ini terakhir kalinya, kau mengkhianatiku". suaranya tenang namun membuat bulu kuduk berdiri.

Pria yang terikat itu meronta " Aku... tak bermaksud..."

Plaak... satu tamparan keras dari seorang yang berbadan besar membuat perkataannya terputus.

James Moriati, tidak ada kata keluar dari mulutnya, ia mendekati pria itu perlahan, berdiri tepat didepannya. tanpa ragu ia mengeluarkan pistol laras pendek berlapis perak dari kantong dalam jasnya.dan...

Door!!!

suara tembakan meledak, menggema dijalanan lembab yang remang. Pria yang bersimpuh jatuh terkapar. Darah mengalir di dahinya.

Lorian terkejut membekap mulutnya. Tubuhnya kaku melihat kejadian pembunuhan tepat didepan matanya. Dengan usaha keras ia menahan nafas agar tidak ketahuan.
Tapi suara kecil dari tempat sampah dibelakangnya berbunyi, membuat James melihat kearahnya.

Lorian membeku ketakutan, matanya melebar. Ingin sekali ia berlari secepat kilat namun tubuhnya tidak mau bergerak.

James Moriati mendekati nya perlahan memandangnya dengan tatapan dingin membuat jantung Lorian seakan berhenti berdetak.

Ia memperhatikan Lorian dari ujung rambut sampai kaki, gadis itu menyatukan tangannya

"Ma..maafkan saya, saya tidak melihat apa-apa" suaranya bergetar

James Moriati menjatuhkan tangannya dan menatap wajahnya dengan dingin tanpa ekspresi.

"Apa kita bunuh saja gadis ini bos?" seorang anggotanya memecah keheningan.

"Sepertinya dia sudah tahu banyak, mungkin seharusnya kita habisi sekarang saja gadis ini" seorang yang lain menimpali.

Pria itu menatapnya yang gemetaran, berpikir apakah akan membunuhnya sekarang juga atau menyiapkan penyiksaan yang lebih mematikan yang akan membunuhnya secara perlahan.

Malam itu bar tempat Lorian bekerja cukup ramai. Padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Seharusnya pergantian shift sudah berjalan, namun malam itu Alfred yang menggantikan shift Lorian sedikit terlambat mengharuskan dia untuk membuang sampah di belakang bar. Namun pemandangan mengerikan....

Address

Surabaya
60177

Telephone

081261228551

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when USEshop posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share